Kualitas udara di sebagian besar wilayah Singapura mengalami penurunan drastis pada Selasa malam akibat terjangan kabut asap lintas batas. Berdasarkan laporan dari National Environment Agency atau NEA, indeks Pollutant Standards Index atau PSI dalam rentang 24 jam tercatat berada di kategori tidak sehat pada sebagian besar kawasan.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Berdasarkan analisis awak media dari data resmi otoritas lingkungan setempat, lonjakan partikel halus PM2.5 terpantau terjadi di seluruh wilayah. Hingga pukul 10 malam, pembacaan 1 jam untuk kadar PM2.5 tertinggi tercatat berada di wilayah Singapura bagian tengah dengan angka 100, sementara wilayah barat berada di angka 87 dan bagian timur mencapai 81.
Pihak berwenang menjelaskan bahwa kabut asap pekat ini merupakan dampak dari kebakaran hutan dan lahan yang terdeteksi di Sumatra dan Kalimantan. Asap dari wilayah tetangga tersebut terbawa oleh angin tenggara hingga timur tenggara yang mengarah langsung ke wilayah Singapura di tengah kondisi cuaca kering.
Mengutip laporan resmi NEA, agensi tersebut menyatakan bahwa "Moderate to dense smoke plumes from southern Sumatra and West Kalimantan were observed drifting towards Singapore" yang memicu penurunan jarak pandang serta kualitas udara secara signifikan dalam beberapa waktu terakhir.
Menghadapi kondisi udara yang memburuk ini, warga diimbau untuk memantau pembacaan PM2.5 per jam sebelum melakukan aktivitas di luar ruangan. Kelompok rentan seperti lansia, ibu hamil, anak-anak, serta penderita penyakit jantung dan paru kronis disarankan untuk menghindari aktivitas luar ruangan yang berat.
Berdasarkan perkiraan cuaca terkini, kondisi kering yang masih akan melanda sebagian besar wilayah Sumatra dan Kalimantan berpotensi membuat kabut asap bertahan dalam beberapa hari ke depan. Pemerintah Singapura terus memantau situasi secara intensif dan akan memperbarui panduan kesehatan secara berkala bagi masyarakat.