Pemerintah Singapura melalui Energy Market Authority atau EMA mengambil langkah strategis untuk memperkuat ketahanan pasokan listrik nasional. Berdasarkan laporan terbaru, sebuah lahan reklamasi seluas 200 hektare di Pulau Tekong tengah dikaji secara mendalam untuk disulap menjadi kawasan pusat klaster infrastruktur energi modern.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Berdasarkan analisis dari awak media, kawasan yang memiliki ukuran setara dengan 40 persen dari luas Pulau Sentosa tersebut diproyeksikan mampu menampung berbagai teknologi energi rendah karbon. Fasilitas masa depan ini mencakup pembangkit listrik tenaga gas yang siap menggunakan hidrogen serta terminal gas alam cair atau LNG.
Sebagaimana dilaporkan oleh otoritas setempat, EMA telah menerbitkan tender bagi para konsultan profesional guna menyusun studi kelayakan dan rancangan induk kawasan tersebut. Proses penunjukan konsultan dijadwalkan rampung pada pertengahan tahun 2027 dengan estimasi pengerjaan studi yang memakan waktu sekitar dua tahun.
Menurut keterangan resmi Kepala Eksekutif EMA Puah Kok Keong, energi merupakan sumber daya krusial yang harus disiapkan secara matang demi mendukung pertumbuhan ekonomi jangka panjang. "Jika proyek ini terwujud, klaster infrastruktur energi di Pulau Tekong akan memegang peranan vital dalam memenuhi kebutuhan listrik Singapura yang terus meningkat," ujarnya.
Langkah ambisius ini sejalan dengan visi transisi energi nasional yang dicanangkan Perdana Menteri Lawrence Wong untuk menekan emisi karbon. Selain mengandalkan bahan bakar hidrogen, pemerintah setempat juga secara aktif mengeksplorasi opsi teknologi energi bersih lainnya termasuk tenaga nuklir.