Dunia investasi kembali diguncang oleh peringatan serius dari tokoh finansial global terkait masa depan teknologi kecerdasan buatan atau AI. Miliarder sekaligus pendiri Bridgewater, Ray Dalio, secara terbuka menyatakan bahwa sektor tersebut kini menyerupai gelembung ekonomi klasik yang semakin mendekati titik akhirnya.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Berdasarkan laporan dari Bloomberg, Dalio menyampaikan pandangan tersebut dalam ajang Forbes Global CEO Conference di Singapura. Menurutnya, masifnya pendanaan utang yang digelontorkan untuk membangun infrastruktur kecerdasan buatan, di tengah tren kenaikan suku bunga global, menjadi pemicu utama kerentanan pasar saat ini.
Mengutip laporan dari awak media, para raksasa teknologi dunia memang terus menggelontorkan ratusan miliar dolar yang sebagian besar dibiayai melalui utang demi mendanai ekspansi AI. Kondisi ini membuat imbal hasil obligasi melonjak tajam ke level tertinggi dalam beberapa dekade, sehingga biaya pendanaan proyek-proyek jumbo tersebut semakin membengkak.
Lebih lanjut, Dalio juga menyoroti potensi tekanan tambahan dari kebijakan pajak kekayaan serta upaya mengubah kekayaan tidak berwujud menjadi uang tunai. Sebagaimana disampaikannya, "Everybody says I'm worth a billion dollars, but OK, try to spend that, in order to spend that you have to sell wealth in order to get money, and so the bubble usually pricks at that", yang menandakan bahwa likuiditas di tingkat elit kaya raya juga menghadapi ujian berat.