Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau AI saat ini tidak hanya mengubah cara perusahaan beroperasi, tetapi juga memicu fenomena baru yang mencemaskan para pakar ekonomi global. Di tengah ketegangan geopolitik dan tantangan ekonomi dunia, pertumbuhan Produk Domestik Bruto di berbagai negara menunjukkan tren positif yang didorong oleh investasi korporasi pada teknologi pintar. Namun, lonjakan ekonomi tersebut berjalan tanpa diiringi oleh kebutuhan penambahan tenaga kerja dalam jumlah yang sebanding, yang kemudian dikenal sebagai fenomena pertumbuhan tanpa serapan tenaga kerja atau jobless growth.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Berdasarkan analisis awak media dari laporan terbaru Kementerian Perdagangan dan Perusahaan, revisi naik target pertumbuhan ekonomi di beberapa negara, termasuk Singapura, didorong oleh akselerasi belanja modal terkait AI secara global. Meski demikian, data menunjukkan peningkatan rasio pemutusan hubungan kerja serta melambatnya pertumbuhan lapangan kerja residen di sektor-sektor tertentu. Situasi ini memicu perdebatan serius di kalangan otoritas keuangan internasional, termasuk Bank of England dan Dana Moneter Internasional atau IMF, mengenai dampak disrupsi AI terhadap posisi pekerja pemula di pasar tenaga kerja.
Pemerintah berbagai negara, termasuk Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong, menegaskan komitmennya untuk memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi nasional harus tetap diterjemahkan ke dalam penciptaan lapangan kerja berkualitas serta upah yang lebih baik bagi masyarakat. Dukungan parlemen melalui mosi khusus juga mempertegas bahwa transisi menuju era AI tidak boleh mengorbankan kesejahteraan tenaga kerja lokal. Menurut pengamat ekonomi, meskipun fenomena resesi tenaga kerja secara massal belum terjadi saat ini, risiko jangka panjang dari otomatisasi berbasis AI tetap harus diwaspadai oleh pelaku industri.
Sejumlah pakar tenaga kerja dan ekonomi dari berbagai universitas terkemuka menilai bahwa AI memiliki karakteristik yang berbeda dibanding gelombang teknologi sebelumnya. Jika inovasi masa lalu menciptakan tugas-tugas baru untuk menyerap tenaga kerja manusia, agen AI justru bertindak sebagai bentuk tenaga kerja modal buatan yang mampu mengambil alih tugas baru maupun lama sekaligus. Akibatnya, perusahaan dapat memperluas kapasitas produktif mereka cukup dengan melatih dan mengerahkan sistem komputer tambahan, alih-alih merekrut karyawan baru dalam skala besar.
Tim redaksi mencatat bahwa tantangan terbesar ke depan adalah memastikan distribusi kesejahteraan dari pertumbuhan ekonomi yang digerakkan oleh teknologi dapat dinikmati secara merata oleh seluruh lapisan pekerja. Apabila keuntungan ekonomi hanya terkonsentrasi pada segelintir perusahaan padat modal yang sangat efisien, jurang ketimpangan pendapatan dikhawatirkan akan semakin melebar. Oleh karena itu, perencanaan kebijakan yang adaptif dan pro-pekerja menjadi kunci utama agar kehadiran teknologi canggih tidak mengancam stabilitas sosial ekonomi masyarakat luas.