Lonjakan biaya pinjaman rumah kembali menjadi sorotan tajam bagi para pencari hunian di Amerika Serikat setelah suku bunga Kredit Pemilikan Rumah (KPR) merangkak naik mendekati level psikologis baru sebesar 7.5 persen. Pasar obligasi yang sempat menunjukkan ketenangan menjelang akhir pekan ternyata tidak mampu meredam tren kenaikan yang terus berlanjut secara konsisten dalam beberapa pekan terakhir.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Berdasarkan data dari Mortgage News Daily, rata-rata suku bunga KPR tetap berjangka waktu 30 tahun telah menyentuh angka 7.49 persen. Angka tersebut mencatat lonjakan signifikan sebesar 30 basis points dibandingkan posisi awal pekan, memperberat beban finansial bagi konsumen yang berencana membeli rumah di tengah situasi ekonomi yang dinamis.
Meskipun posisi saat ini masih berada di bawah level puncak akhir tahun 2023 yang sempat menyentuh kisaran 7.8 persen, kenaikan tajam ini dinilai sangat mengejutkan. Tim analis mencatat bahwa pergerakan ini berpotensi besar mendinginkan transaksi penjualan rumah, terutama menjelang periode perlambatan musiman yang biasanya terjadi saat musim dingin tiba.
Tren kenaikan ini sebenarnya mulai terasa sejak akhir Agustus ketika posisi suku bunga berada di angka 6.75 persen. Memasuki pertengahan September, tingkat suku bunga dengan cepat menembus ambang batas psikologis 7 persen di tengah tingginya volatilitas pasar obligasi global yang bergerak seiring dengan imbal hasil US Treasury 10-tahun.
Menurut pengamat ekonomi senior Realtor.com, Anthony Smith, angka 7 persen memiliki dampak psikologis yang kuat bagi para pelaku pasar. Tingkat suku bunga tersebut tiba pada momen krusial ketika negosiasi dan daya tawar seharusnya mulai bergeser menguntungkan pihak pembeli di pasaran.
Dari analisis awak media, tekanan pada pasar perumahan ini tidak terlepas dari kekhawatiran investor yang kian meningkat terhadap pergerakan harga minyak mentah dunia, bayang-bayang inflasi yang persisten, serta spekulasi mengenai kebijakan suku bunga lanjutan dari bank sentral Federal Reserve.