Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengungkapkan bahwa pemimpin China Xi Jinping tampaknya menyukai istilah "super intelligence" untuk menggantikan penyebutan kecerdasan buatan. Berdasarkan pengamatan tim redaksi, perbincangan mengenai perubahan nomenklatur ini mencuat setelah kedua pemimpin negara mengadakan pertemuan tingkat tinggi yang sangat produktif.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Melalui unggahan di media sosial resminya, Presiden Trump menyebutkan bahwa percakapan tersebut mengalir positif ketika membahas penamaan ulang teknologi masa depan tersebut. Berdasarkan laporan, agenda penting itu berlangsung di sela-sela jamuan makan malam eksklusif yang dihadiri oleh jajaran petinggi industri teknologi global terkemuka.
Sebelumnya, dalam pidato resminya di Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa, Presiden Trump secara tegas menyatakan bahwa pemerintahannya akan meninggalkan istilah "artificial intelligence". Sebagaimana dilaporkan, ia menilai istilah baru tersebut jauh lebih akurat sekaligus menolak segala bentuk aturan ketat global dalam pengembangan teknologi.
Di sisi lain, perdebatan mengenai regulasi teknologi canggih ini tetap menuai pro dan kontra dari para pelaku industri terkemuka. Sejumlah pemimpin perusahaan rintisan AI secara terbuka memperingatkan potensi risiko kemanusiaan apabila perkembangan inovasi tersebut tidak diawasi dengan standar keamanan yang jelas.
Kendati demikian, dukungan terhadap ekosistem teknologi tanpa regulasi ketat juga disuarakan oleh Presiden Argentina Javier Milei dalam kunjungannya ke New York. Menurutnya, ketersediaan sumber daya alam serta lahan yang luas di negaranya siap menopang ekspansi pusat data digital masa depan tanpa hambatan birokrasi.