BEM UI menilai insiden penganiayaan yang menimpa Koordinator Bidang Sosial Politik BEM Universitas Indonesia (UI), Hafidz Hernanda, menyimpan banyak tanda tanya besar. Berdasarkan analisis internal organisasi mahasiswa tersebut, pola penyerangan di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, tidak mencerminkan aksi kriminalitas jalanan pada umumnya.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Berdasarkan laporan yang dihimpun, peristiwa kekerasan tersebut terjadi pada Minggu malam di Jalan Tebet Barat IX. Pelaku secara tiba-tiba melakukan tindakan kekerasan fisik terhadap korban sebelum akhirnya melarikan diri dengan membawa perangkat komunikasi milik korban.
Menurut Wakil Ketua BEM UI Fathimah Azzahra, lembaganya melihat ada pola ganjil yang mengarah pada dugaan modus operandi tersembunyi. "Penyerangan ini tidak dapat kami atribusikan sebagai insiden pencurian biasa, karena di dalam kronologi kasus tersebut dan barang bukti yang ditemukan, terdapat beberapa indikasi yang patut menimbulkan kecurigaan atas modus operandi dari insiden ini," ujarnya saat berada di Polda Metro Jaya.
Pengamatan dari awak media dan tim redaksi memperlihatkan bahwa kasus ini menarik perhatian publik luas karena status korban sebagai aktivis mahasiswa yang kerap menyuarakan isu-isu sosial politik penting. Keberadaan barang-barang tidak lazim di lokasi kejadian semakin memperkuat dugaan adanya skenario tertentu di balik aksi brutal tersebut.
Konsultan Legal BEM UI, Adi, membeberkan sejumlah kejanggalan teknis yang memperkuat kecurigaan pihak korban. Ia menyebutkan bahwa fitur pelacak ponsel korban tiba-tiba tidak aktif sesaat sebelum insiden berlangsung, serta tindakan pelaku yang tidak langsung merampas barang berharga sejak awal.
Setelah menendang motor Bapis, pelaku justru memilih untuk memukuli Saudara Bapis. Tidak ada upaya dari pelaku untuk mengambil motor atau barang berharga lainnya, pada awalnya, ungkap Adi memaparkan kronologi insiden tersebut.
Pelaku baru bergerak untuk mengambil handphone Bapis setelah pertikaian selesai. Fakta tersebut menjadi aneh apabila memang motivasi awalnya adalah untuk melakukan pembegalan, imbuh Adi menegaskan kejanggalan tindakan pelaku di lokasi kejadian.
Selain urutan kejadian yang tidak biasa, penemuan sejumlah barang bukti di tempat kejadian perkara turut menjadi sorotan tajam. Di lokasi tersebut, ditemukan sarung tangan medis hingga perekat hitam yang biasanya tidak lazim dibawa oleh pelaku kejahatan jalanan konvensional.
Bahwa di antara barang bawaan pelaku, kami juga menemukan sepasang sarung tangan latex, lakban hitam, sandal jepit, kain putih, dan juga korek api, jelas Adi mengenai barang-barang yang ditinggalkan pelaku.
Menanggapi laporan dan aduan tersebut, pihak kepolisian bergerak cepat untuk mengusut tuntas insiden kekerasan ini. Jajaran kepolisian memastikan bahwa penyelidikan mendalam tetap berjalan meskipun laporan resmi masih dalam proses pemenuhan.
Tentunya kami dari Polda Metro Jaya akan mendalami peristiwa ini yang kejadian di Tebet, adanya pemukulan ataupun dugaan penganiayaan kepada salah satu dari organisasi mahasiswa, ucap Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto memberikan tanggapan.
Kepolisian juga mengimbau pihak korban agar segera melengkapi administrasi laporan resmi guna memperlancar proses investigasi di lapangan. Kendati demikian, aparat penegak hukum menegaskan bahwa pengumpulan bukti-bukti awal di tempat kejadian perkara terus berjalan intensif.