Indeks saham perbankan di Singapura kembali mengalami tekanan jual yang cukup tajam untuk hari kedua berturut-turut. Kondisi ini memperpanjang tren koreksi setelah sebelumnya mencatatkan rekor harga tertinggi baru sepanjang tahun ini.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Tekanan di lantai bursa bermula dari laporan terbaru yang dirilis oleh Citi. Dalam laporannya, Citi memutuskan untuk memangkas peringkat saham OCBC dari "neutral" menjadi "sell" dengan proyeksi laba kuartal ketiga yang diperkirakan cenderung datar dibandingkan tahun sebelumnya.
Dampak dari laporan tersebut langsung terasa pada pergerakan saham di pasar modal. Saham OCBC merosot hingga 4,29 persen, menyusul kejatuhan signifikan pada hari sebelumnya yang mengikis nilai kapitalisasi pasar secara drastis.
Tidak hanya OCBC, saham perbankan raksasa lainnya seperti UOB dan DBS juga ikut terseret ke zona merah. UOB tercatat mengalami penurunan sebesar 5,16 persen, sementara DBS terkoreksi 4,7 persen akibat meningkatnya kehati-hatian investor di sektor keuangan.
Menurut analisis dari awak media, para investor mulai melakukan aksi ambil untung setelah saham-saham perbankan tersebut melonjak tinggi di tengah valuasi yang kian mahal. Selain itu, kekhawatiran terhadap kenaikan biaya pendanaan akibat suku bunga tinggi turut memperberat sentimen pasar.
"Investor tampaknya memilih untuk mengamankan keuntungan mumpuni setelah kenaikan harga yang fantastis tahun ini," ungkap Jayden Vantarakis selaku Kepala Riset Ekuitas ASEAN di Macquarie Equity Research.
Kendati pandangan para analis bervariasi antara rekomendasi beli maupun jual, para ahli menyarankan agar investor lebih mencermati fundamental jangka panjang serta arah kebijakan suku bunga global yang menjadi penentu utama kinerja sektor perbankan ke depan.