Inovasi pengelolaan lingkungan yang kreatif kini tengah digencarkan oleh warga Kelurahan Cipinang Melayu, Kecamatan Makasar, Jakarta Timur. Berdasarkan laporan dari jajaran kelurahan setempat, masyarakat berhasil menyulap ratusan kilogram sampah organik harian menjadi komoditas budidaya maggot yang bernilai ekonomis tinggi.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Menurut keterangan Lurah Cipinang Melayu, Arroyantoro, wilayahnya kini telah memiliki sejumlah titik rumah maggot yang tersebar di beberapa rukun warga. Program mandiri ini menjadi solusi jitu dalam mengatasi volume sampah perkotaan sekaligus memberikan tambahan penghasilan bagi warga sekitar.
"Saat ini rumah maggot sebagai tempat budi daya sudah ada di RW 11, 05, 12, 01, dan RW 10," ujar Arroyantoro saat memberikan penjelasan terkait program lingkungan tersebut.
Berdasarkan analisis awak media, keberhasilan program ini terletak pada proses pengolahan yang teliti sebelum sampah diberikan kepada larva lalat tentara hitam. Sampah organik terlebih dahulu dimasukkan ke dalam tong berukuran besar dan difermentasi selama dua hingga tiga hari guna mempercepat proses penguraian sekaligus meredam bau tak sedap.
Setelah masa panen tiba, maggot berukuran besar tersebut dipilah untuk dipasarkan secara rutin kepada para pembeli. "Penjualan maggot minimal tiga hari sekali dengan jumlah sekitar 40 sampai 50 kilogram. Untuk harga eceran Rp10 ribu per kilogram dan non eceran Rp7.000 per kilogram," ungkap Arroyantoro.
Pemerintah kelurahan berencana untuk memperluas keterlibatan warga secara langsung dalam pengelolaan rumah maggot melalui pelatihan teknik budidaya. Langkah strategis ini diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran pemilahan sampah dari sumber sekaligus mendongkrak perekonomian warga di permukiman.