Lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat hingga menyentuh level 5,2 persen atau yang tertinggi dalam hampir 20 tahun terakhir ternyata tidak mampu meredam laju ekspansi ekonomi nasional. Sebagaimana dilaporkan dari berbagai indikator keuangan, tekanan biaya pinjaman yang kian mahal justru diterjang oleh daya tahan sektor riil yang luar biasa kuat.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Berdasarkan analisis awak media dari laporan ekonomi makro terkini, ketahanan tersebut dimotori oleh aktivitas belanja masyarakat yang tetap agresif di tengah bayang-bayang kenaikan harga energi serta tarif perdagangan global. Pertumbuhan belanja riil konsumen bahkan tercatat melaju pada tingkat 3,4 persen secara disetahunkan pada kuartal kedua dan diproyeksikan melampaui 4 persen pada kuartal berikutnya.
Menurut Ed Yardeni selaku kepala strategi investasi di Yardeni Research, faktor utama di balik kenaikan tajam imbal hasil obligasi ini adalah karena kondisi perekonomian domestik yang sedang dalam fase ekspansi yang sangat kuat. "Alasan utama imbal hasil obligasi melonjak tajam adalah karena ekonomi Amerika Serikat sedang mengalami booming," ujarnya dalam catatan pasar.
Pengamatan dari sektor manufaktur dan jasa turut memperkuat indikasi tersebut di mana indeks manajer pembelian atau PMI S&P mencatatkan peningkatan bulanan terbesar sejak tahun 2022. Sektor jasa juga melompat ke level tertinggi sejak 2021 yang didorong oleh lonjakan pesanan baru, sementara pasar tenaga kerja tetap stabil dengan tingkat pengangguran terjaga di kisaran 4,1 persen.
Kendati demikian, para pejabat bank sentral Federal Reserve mulai mempertimbangkan risiko tekanan inflasi susulan akibat pertumbuhan yang terlalu cepat ini. Sejumlah pengamat pasar menilai bahwa dinamika baru ini mengubah pandangan konvensional mengenai hubungan antara suku bunga tinggi dan kelesuan permintaan publik.