Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memuncak setelah Presiden AS Donald Trump secara terbuka menolak proposal damai yang diajukan oleh Teheran. Proposal yang disampaikan melalui mediator Qatar di sela-sela Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa tersebut menjanjikan pembukaan kembali jalur strategis Selat Hormuz serta penghentian permusuhan dalam kurun waktu tujuh hari.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Namun, tanggapan dingin langsung ditunjukkan oleh Washington. Di Gedung Putih, Trump menyatakan bahwa dirinya tidak tertarik dengan kesepakatan tersebut karena meyakini pihak Iran berada dalam posisi terdesak akibat krisis finansial yang melanda negara mereka.
"Mereka ingin membuat kesepakatan untuk segera membuka Selat Hormuz karena mereka kehabisan uang dan pemasukan utama mereka berasal dari jalur tersebut," ujar Trump sebelum bertolak ke Tennessee, sebagaimana dilaporkan oleh berbagai media internasional.
Menanggapi penolakan tersebut, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa penyelesaian konflik hanya dapat ditempuh melalui perundingan diplomatik yang serius. Pihaknya menyatakan masih menunggu konfirmasi resmi dari para mediator terkait sikap akhir pemerintah Amerika Serikat sebelum mengambil langkah lanjutan.
"Kondisi kami sudah sangat jelas, dan setiap langkah menuju pembukaan kembali Selat Hormuz bergantung pada terpenuhinya syarat-syarat tersebut. Hanya solusi perundingan yang dapat mengeluarkan mereka dari kebuntuan ini," tulis Araghchi melalui akun media sosial pribadinya.
Dari analisis awak media, penolakan keras dari Washington ini memperlihatkan bahwa kebuntuan geopolitik di kawasan Teluk masih akan berlangsung lama. Sikap keras kedua belah pihak mengindikasikan eskalasi lanjutan di jalur minyak global tersebut berpotensi terus berlanjut di tengah upaya mediasi internasional yang terus berjalan.