Ibu kota Thailand resmi menyandang status darurat bencana setelah diguyur hujan lebat nyaris tanpa henti selama hampir 48 jam. Genangan air tinggi merendam kawasan pemukiman, toko-toko, hingga jalan protokol, memaksa warga untuk beraktivitas di tengah kepungan air setinggi pinggang orang dewasa.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Mengutip laporan dari awak media, Perdana Menteri Anutin Charnvirakul terpaksa memotong agenda kunjungannya di London untuk segera kembali ke tanah air. Keputusan darurat ini diambil setelah curah hujan di sejumlah titik tercatat melampaui 300 milimeter sejak Kamis sore hingga Sabtu pagi.
Berdasarkan analisis tim redaksi, situasi darurat ini memicu kekhawatiran mendalam mengingat bulan September memang menjadi puncak musim hujan di kawasan tersebut. Namun, sejumlah warga senior mengaku belum pernah menyaksikan intensitas curah hujan separah ini sepanjang sejarah tempat tinggal mereka.
"Air terus masuk dan sulit bagi saya untuk keluar karena ketinggiannya sudah mencapai pinggang," ujar Somkid Pheuk-ngam, seorang warga berusia 67 tahun yang tinggal di dekat kanal.
Pemerintah Metropolitan Bangkok atau BMA akhirnya memberlakukan status darurat untuk seluruh 50 distrik di wilayah tersebut guna memberikan kewenangan khusus bagi organisasi lokal dalam mengambil tindakan cepat. Gubernur Bangkok Chadchart Sittipunt menyatakan bahwa kondisi air saat ini mulai stabil meskipun tantangan terbesar masih berasal dari volume air kanal yang meluber.
Chadchart menjelaskan bahwa pihaknya terus berkoordinasi dengan provinsi-provinsi tetangga untuk mengalihkan laju air dan meminimalkan debit yang masuk ke pusat kota. Pompa air kota juga dikerahkan secara maksimal untuk mempercepat proses penyurutan yang diprediksi memakan waktu hingga tiga hari ke depan jika cuaca mendukung.
Kendati otoritas telah menyiapkan sekitar satu juta kantong pasir dan mengevakuasi ratusan warga ke tempat penampungan sementara, dampak lumpuhnya infrastruktur tetap dirasakan masyarakat. Sejumlah ruas jalan utama lumpuh total dan rak-rak di minimarket terpantau kosong akibat aksi borong warga yang mengantisipasi krisis logistik.