Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menegaskan bahwa komitmen dalam menghadapi perubahan iklim tidak boleh hanya berhenti pada tataran target pengurangan emisi semata. Kebijakan iklim harus mampu menghadirkan manfaat nyata yang bisa langsung dirasakan oleh masyarakat dalam aktivitas sehari-hari.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Berdasarkan pengamatan tim redaksi, langkah strategis yang dipaparkan di panggung internasional ini menunjukkan keseriusan ibu kota dalam merespons tantangan lingkungan global sekaligus memperbaiki kualitas hidup perkotaan secara berkelanjutan.
Hal tersebut disampaikannya saat hadir sebagai pembicara utama dalam forum Heat Roundtable yang berlangsung di New York, Amerika Serikat. Dalam kesempatan tersebut, ia membeberkan berbagai tantangan krusial yang dihadapi Jakarta sebagai kota megapolitan.
Mengutip laporan dari awak media, Jakarta dihadapkan pada mobilitas tinggi dengan pergerakan empat juta orang setiap harinya dari wilayah penyangga serta produksi sampah harian yang mencapai sekitar 9.000 ton.
Pramono menilai bahwa persoalan kemacetan, polusi udara, dan pengelolaan sampah saling berkaitan erat dengan kesehatan masyarakat. Oleh karena itu, Pemprov DKI mengintegrasikan berbagai moda transportasi publik seperti MRT, LRT, dan Transjakarta.
Upaya elektrifikasi armada transportasi juga terus digenjot guna menekan emisi karbon secara signifikan. Pemprov DKI menargetkan perluasan jaringan rel serta penambahan armada bus listrik untuk beralih dari kendaraan pribadi.