PT MRT Jakarta terus memperkuat lini bisnis di luar penjualan tiket guna mendongkrak performa keuangan perusahaan. Berdasarkan laporan terbaru, sektor properti tercatat mampu memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pundi-pundi pendapatan non-farebox perusahaan transportasi massal tersebut.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Division Head Property Management Division PT MRT Jakarta M Iqbal Bimo Arifianto mengungkapkan bahwa bisnis properti menyumbang sekitar 25 persen dari total pendapatan non-farebox. Secara keseluruhan, pendapatan non-farebox MRT Jakarta pada tahun 2025 lalu mencapai kisaran 30 persen dari total pendapatan perusahaan yang menyentuh angka Rp 1,5 triliun, atau mengalami kenaikan sebesar 7 persen jika dibandingkan tahun sebelumnya.
Berdasarkan analisis awak media, langkah ekspansi berbasis kawasan atau transit oriented development (TOD) menjadi strategi kunci dalam mengoptimalkan aset-aset di sekitar jalur transportasi. MRT Jakarta bahkan turut mempelajari model pengembangan dari kota besar lain seperti Hong Kong dan Shenzhen untuk memaksimalkan potensi pendapatan dari sektor properti.
Kendati demikian, proses pengembangan kawasan tersebut tidak luput dari berbagai kendala di lapangan. Salah satu proyek yang dinilai paling menantang adalah pengelolaan kawasan Blok M karena memiliki karakteristik yang sangat dinamis dan terbuka bagi siapa saja.
Menurut Bimo, kawasan Blok M bertindak sebagai wadah peleburan berbagai aktivitas masyarakat dengan tantangan awal yang cukup kompleks. Sebelum dilakukan penataan secara menyeluruh, kawasan ini sempat diwarnai oleh masalah ketertiban parkir, kebersihan lingkungan, hingga isu keamanan seperti premanisme dan pencopetan.
Selain kondisi fisik bangunan yang memerlukan pembenahan serius, keberadaan pihak-pihak yang merasa memiliki pengaruh di kawasan tersebut juga menjadi ujian tersendiri bagi manajemen. Demi mengatasi hal tersebut, pihak MRT Jakarta secara aktif mengedepankan pendekatan komunikasi dan mencari titik temu bersama seluruh elemen masyarakat yang telah lama beraktivitas di sana.