Mata uang tunggal Eropa, euro, mengalami tekanan jual yang cukup tajam hingga menyentuh level terlemahnya dalam 17 bulan terakhir pada perdagangan di sesi Asia. Pelemahan ini terjadi seiring dengan memanasnya situasi politik domestik di Spanyol, di mana para pejabat tinggi pemerintah dikabarkan tengah bersiap menghadapi pemilihan umum lebih awal.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Berdasarkan laporan pasar, nilai tukar euro sempat merosot hingga 0,8 persen dan menyentuh level 1,1161 per dolar AS. Aksi jual masif yang dilakukan oleh sejumlah pelaku pasar dan dana lindung nilai di Asia turut memicu hambatan opsi yang semakin memperparah penurunan nilai mata uang tersebut.
Situasi politik di Spanyol memanas menyusul kekalahan telak di parlemen pada pekan sebelumnya, yang membuat opsi pemilu dini dinilai sebagai langkah paling masuk akal oleh internal partai penguasa. Kondisi ini datang beriringan dengan kekhawatiran investor yang belum mereda terhadap stabilitas politik serta prospek anggaran jangka panjang di Prancis.
Menurut Homin Lee selaku senior macro strategist di Lombard Odier Singapore Ltd, pasar obligasi dan valuta asing saat ini memberikan sinyal yang cukup jelas mengenai kecemasan investor. Ketidakstabilan pemerintahan Prancis serta melemahnya jangkar fiskal negara tersebut menjadi sorotan utama menjelang agenda politik besar pada tahun 2027 mendatang.
Sebagai dampak dari ketidakpastian tersebut, kontrak berjangka obligasi Prancis tercatat melemah di pasar Asia, sementara instrumen serupa di Jerman justru mencatatkan penguatan tipis. Premi risiko yang harus dibayar investor untuk memegang obligasi Prancis dibandingkan obligasi Jerman bahkan sempat melonjak signifikan hingga menyentuh level tertinggi dalam lebih dari satu dekade terakhir.