Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence yang masif saat ini memicu gelombang pendanaan besar-besaran di pasar finansial global. Berdasarkan data dari Goldman Sachs, perusahaan-perusahaan teknologi besar seperti Alphabet, Amazon, Meta, Microsoft, dan Oracle diperkirakan akan mencatatkan pengeluaran modal hingga sekitar 800 miliar dolar tahun ini serta melompat menjadi 1,2 triliun dolar pada tahun depan.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Tingginya biaya operasional dan pembangunan infrastruktur tersebut menggerus arus kas korporasi, sehingga memaksa para raksasa teknologi untuk beralih ke pasar obligasi demi mendapatkan pendanaan segar. Mengutip laporan SIFMA, perusahaan-perusahaan di Amerika Serikat telah menerbitkan obligasi senilai 1,9 triliun dolar hingga bulan Agustus, yang mencatatkan lonjakan signifikan sebesar 30 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Berdasarkan laporan kuartalan dari Institute of International Finance atau IIF, penerbitan obligasi global oleh perusahaan yang berafiliasi dengan kecerdasan buatan telah melampaui angka 400 miliar dolar tahun ini. Dari total nilai tersebut, perusahaan asal Amerika Serikat mendominasi sekitar 90 persen, dengan laju tahunan yang kini bergerak di atas kisaran 500 miliar dolar.
Dari analisis awak media, banjir utang korporasi baru ini menimbulkan pertanyaan besar di kalangan pelaku pasar mengenai kemampuan pasar modal dalam menyerap kebutuhan pembiayaan yang terus meningkat. Muncul kekhawatiran bahwa gelombang penerbitan surat utang ini dapat menyingkirkan emiten obligasi lainnya, yang berpotensi menekan harga surat utang tersebut dan mendongkrak imbal hasil ke level yang lebih tinggi.
Situasi ini terjadi di tengah kondisi pasar obligasi global yang sedang bergejolak, di mana imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun dan 30 tahun sempat menyentuh level tertingginya masing-masing sejak tahun 2007 dan 2004. Ketua Federal Reserve, Kevin Warsh, bahkan mengakui bahwa persaingan modal antar perusahaan teknologi berskala besar turut memengaruhi kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah tersebut.
"Kelompok perusahaan teknologi besar ini turun ke pasar untuk mencari pendanaan, persaingan modal ini nyata, dan saya rasa hal itu turut menjelaskan kenaikan imbal hasil," ujar Kevin Warsh dalam pernyataannya.
Meskipun demikian, para pengamat dan periset menemukan sedikit sekali bukti yang menunjukkan adanya efek penyingkirkan atau crowding-out secara langsung antara surat utang pemerintah Amerika Serikat dengan obligasi yang diterbitkan oleh sektor kecerdasan buatan. Menurut Vishwas Patkar selaku Kepala Strategi Kredit AS di Morgan Stanley, obligasi yang mendanai proyek kecerdasan buatan umumnya berjangka lebih panjang, sementara penerbitan obligasi pemerintah bergeser ke tenor yang lebih pendek.
Selain itu, basis investor antara pembeli surat utang negara dan pembeli obligasi korporasi teknologi cenderung berasal dari kelompok yang berbeda, sehingga meminimalkan tumpang tindih di pasar. Laporan IIF juga mencatat bahwa pangsa penerbitan obligasi global oleh perusahaan nonkeuangan sejauh ini masih berada dalam kondisi yang relatif stabil.
Meskipun tidak terjadi persaingan langsung secara masif dengan obligasi negara, belanja sektor kecerdasan buatan tetap memberikan tekanan ke atas pada tingkat suku bunga secara keseluruhan. Hal ini didorong oleh tingginya permintaan modal di saat tingkat tabungan personal di Amerika Serikat sedang berada di dekat level terendahnya dalam empat tahun terakhir.
"Saya tidak melihat penerbitan korporasi yang didorong oleh kecerdasan buatan sebagai variabel utama penentu suku bunga, melainkan bagaimana dinamika pembiayaan ini mendongkrak pertumbuhan jangka pendek dan memengaruhi posisi fundamental suku bunga," jelas Vishwas Patkar dalam pemaparannya.