Kondisi cuaca ekstrem memaksa otoritas Nepal untuk sementara menghentikan operasi pencarian korban longsor salju yang melanda kawasan Pegunungan Himalaya. Bencana dahsyat ini dikhawatirkan menjadi insiden pendakian paling mematikan dalam lebih dari satu dekade terakhir setelah 16 orang tersapu material salju tebal. Berdasarkan analisis tim redaksi, medan yang sangat terjal serta cuaca buruk membuat proses evakuasi di lereng Gunung Himlung menjadi tantangan besar bagi para penyelamat.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Bencana salju longsor tersebut menerjang base camp di ketinggian 7.126 meter pada akhir pekan lalu, menyisakan timbunan salju setinggi lebih dari empat meter. Menurut Presiden Nepal National Mountain Guide Association, Tul Singh Gurung, "Kondisi di lapangan sangat menantang dan pencarian terpaksa dihentikan sementara waktu." Dari total korban hilang, sebagian besar merupakan pekerja lokal asal Nepal yang sedang mempersiapkan ekspedisi pendakian di dekat perbatasan Tiongkok.
Pemimpin tim penyelamat, Mingma G Sherpa, mengungkapkan rasa pesimistisnya terkait peluang menemukan korban selamat di tengah tumpukan salju yang masif. "Melihat kondisi jenazah yang sudah ditemukan, kecil kemungkinan sisanya dapat selamat dari terjangan salju tersebut," ujarnya. Operasi penyelamatan baru akan dilanjutkan kembali setelah lapisan salju mencair dan kondisi cuaca di sekitar lokasi kejadian mulai membaik.
Tragedi kelam ini menambah rentetan daftar bencana alam yang menghantam Nepal dalam beberapa waktu terakhir, termasuk insiden banjir besar akibat runtuhnya gletser. Sebagai negara yang menyimpan delapan dari sepuluh puncak tertinggi di dunia, sektor pariwisata pendakian memegang peran vital bagi perekonomian Nepal. Namun, ancaman perubahan iklim dan cuaca ekstrem kini semakin membahayakan keselamatan para pendaki serta penduduk lokal.