Pemerintah Singapura mengambil langkah tegas dengan membentuk sebuah komite khusus untuk meninjau dan memperketat pengamanan serta perlindungan anak dan remaja di berbagai lembaga keagamaan Islam. Kebijakan darurat ini diambil menyusul terungkapnya kasus pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur yang dilakukan oleh seorang influencer agama di dalam kompleks masjid.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Berdasarkan laporan dari Kementerian Kebudayaan, Masyarakat, dan Kepemudaan serta Majelis Ugama Islam Singapura, komite independen ini dipimpin oleh dua tokoh terkemuka yaitu Associate Professor Razwana Begum dan Ustaz Fathurrahman Dawoed. Tim khusus tersebut akan bekerja secara menyeluruh untuk mengevaluasi celah hukum dan sistem pengawasan yang ada di lapangan.
Pejabat Menteri Urusan Muslim Zaqy Mohamad menegaskan bahwa pembentukan komite ini bertujuan untuk memastikan ruang-ruang keagamaan tetap aman bagi generasi muda tanpa menghilangkan kesan ramah dan terbuka. "Kami ingin memberikan ruang dan kebebasan bagi mereka untuk meninjau secara mandiri dan objektif bagaimana meningkatkan pelayanan kelas keagamaan," ujarnya.
Pengamatan tim redaksi menunjukkan bahwa fokus utama peninjauan ini meliputi standar operasional prosedur, pemeriksaan latar belakang pengajar dan relawan, serta pembentukan saluran pengaduan yang aman bagi korban. Komite tersebut dijadwalkan akan menyerahkan rekomendasi komprehensif kepada pemerintah sebelum pergantian tahun.
Selain aspek fisik di masjid dan madrasah, komite juga menyoroti ancaman baru di ruang digital serta media sosial yang kerap dimanfaatkan oleh oknum tidak bertanggung jawab. Masyarakat umum juga diberikan kesempatan untuk berpartisipasi memberikan masukan melalui formulir umpan balik daring yang telah disediakan oleh otoritas berwenang.