Kasus hilangnya atlet golf profesional Jesslyn Wijaya memasuki babak baru yang semakin mencemaskan publik dan orang terdekatnya. Didampingi oleh kuasa hukumnya, kekasih Jesslyn yang bernama Evan secara resmi mendatangi kantor Komnas Perempuan di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, untuk melaporkan kondisi terkini korban yang sudah lebih dari dua minggu hilang kontak.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Berdasarkan analisis awak media dan penjelasan dari pihak kuasa hukum, dugaan perampasan kemerdekaan ini bermula ketika Jesslyn dilaporkan hilang pada tanggal 13 Juli 2026 saat menghadiri acara ulang tahun sang nenek di sebuah restoran mewah di kawasan Jakarta Pusat. Perilaku intimidatif tersebut diduga tidak berhenti di situ saja, melainkan terus berlanjut hingga ke luar negeri termasuk Malaysia dan Bangkok.
Kuasa hukum Evan, Andi Darti, menjelaskan bahwa narasi yang menyatakan Jesslyn berada dalam kondisi aman bersama keluarganya patut dipertanyakan kebenarannya. "Kami menyampaikan bahwa saat ini sudah dua minggu lebih Jesslyn tidak diketahui keberadaannya dan ada indikasi kuat perampasan hak," ujar Darti kepada awak media di lokasi.
Lebih lanjut, Darti membeberkan bahwa pembatasan ruang gerak tersebut terlihat jelas dari ketidakmampuan korban untuk berkomunikasi dengan dunia luar. Korban sama sekali tidak diberikan akses telepon, tidak bisa menghubungi rekan kerja maupun teman dekatnya, serta tidak diizinkan mengakses rekening perbankan pribadinya.
Menanggapi laporan tersebut, pihak Komnas Perempuan sebenarnya telah berupaya melakukan langkah-langkah penjangkauan secara institusional. Namun, proses investigasi dan penanganan kasus ini menemui kendala besar di lapangan akibat korban tidak dapat dihubungi sama sekali oleh tim pemantau.
Fakta mengejutkan juga terungkap bahwa ini bukanlah pengaduan pertama yang diterima oleh lembaga perlindungan tersebut terkait masalah keluarga korban. Pada tahun 2025 silam, Jesslyn tercatat pernah membuat aduan mandiri karena mengalami tekanan serupa hingga memilih keluar rumah dan tinggal secara mandiri di sebuah apartemen.