Ibu kota Indonesia kembali mencatatkan prestasi membanggakan di kancah internasional setelah resmi masuk dalam jajaran 140 besar kota global versi pemeringkatan Global Cities Index 2026 yang dirilis oleh lembaga riset bergengsi Oxford Economics. Dari total 1.000 kota di seluruh dunia yang dievaluasi, Jakarta berhasil menunjukkan eksistensi dan daya saingnya di tengah dinamika perkotaan global yang semakin ketat.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Berdasarkan analisis lembaga riset internasional tersebut, penilaian dilakukan dengan mengukur lima pilar utama yang mencakup aspek ekonomi, modal manusia, kualitas hidup, lingkungan, serta tata kelola pemerintahan. Setiap pilar dirancang untuk melihat tidak hanya kondisi kekinian sebuah kawasan, melainkan juga arah tren pertumbuhan serta proyeksi potensinya di masa mendatang.
Dalam laporan terbarunya, sektor ekonomi menjadi salah satu pilar penopang utama bagi Jakarta dengan perolehan skor yang cukup kompetitif di angka 67,6. Penilaian ini didasarkan pada parameter seperti skala perekonomian makro, stabilitas pasar, tingkat pendapatan per kapita, penyerapan tenaga kerja, hingga tingkat keragaman sektor bisnis yang beroperasi di wilayah metropolitan ini.
Selain kekuatan finansial dan aktivitas perdagangan yang masif, pencapaian paling gemilang justru dicatatkan Jakarta pada kategori modal manusia atau human capital dengan torehan skor mencapai 76,0. Aspek ini merefleksikan kualitas angkatan kerja, ketersediaan talenta berkualitas, serta tingkat pendidikan yang menjadi roda penggerak utama bagi berbagai lini industri di ibu kota.
Kendati demikian, pengamatan mendalam dari awak media menunjukkan bahwa Jakarta masih memiliki sejumlah pekerjaan rumah besar, terutama pada kategori kualitas hidup atau quality of life yang baru mengantongi skor 50,4. Tantangan terkait pemerataan kesejahteraan, kelayakan infrastruktur sosial, dan perbaikan lingkungan hidup tentu memerlukan intervensi kebijakan yang berkelanjutan dari pemerintah daerah.
Sebagaimana dilaporkan oleh para pengamat perkotaan, capaian di peringkat 140 dunia ini harus dimanfaatkan sebagai momentum refleksi bagi pemangku kepentingan untuk terus menggenjot pembangunan yang inklusif. "Jakarta memiliki modal besar dari sisi manusia dan ekonomi, namun aspek kualitas hidup warga harus menjadi prioritas utama ke depan," ujar salah satu analis perkotaan.