Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas setelah Presiden Donald Trump secara terbuka menolak proposal gencatan senjata yang diajukan oleh Teheran di Perserikatan Bangsa-Bangsa. Kendati demikian, Trump tetap meyakini bahwa proses dialog dan perundingan antar kedua negara bakal segera berlanjut dalam waktu dekat.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Berdasarkan analisis tim redaksi, langkah Iran membawa proposal gencatan senjata berdurasi tujuh hari ke PBB merupakan upaya diplomatik di tengah kebuntuan konflik di Teluk. Namun, Washington menilai syarat-syarat yang diajukan Teheran terlalu berat dan tidak realistis untuk diterima saat ini.
"Mereka ingin membuat kesepakatan, tetapi itu bukan kesepakatan yang ingin saya buat. Itu adalah sesuatu yang mungkin kita sepakati setahun lalu," ujar Trump sebagaimana dilaporkan oleh media internasional.
Di sisi lain, pejabat tinggi Iran menegaskan bahwa pembukaan kembali jalur pelayaran vital Selat Hormuz sangat bergantung pada pemenuhan syarat-syarat mereka, termasuk pencabutan sanksi internasional dan penghentian blokade angkatan laut AS. Teheran menyatakan tidak akan mundur dari tuntutan tersebut.
Situasi di kawasan Teluk kian rumit setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran dilaporkan berhasil menyita sebuah drone bawah air milik militer Amerika Serikat di Selat Hormuz. Perangkat nirawak tersebut dituduh digunakan untuk kepentingan spionase dan kini berada dalam penguasaan otoritas militer Iran.
Mengutip laporan dari berbagai sumber diplomatik, peluang pembicaraan tidak langsung antara Washington dan Teheran tetap terbuka melalui peran negara mediator seperti Qatar. Namun, tingginya ketidakpercayaan dari pihak AS membuat jalan menuju perdamaian masih menghadapi jalan terjal.