Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent memproyeksikan harga minyak dunia akan mengalami penurunan drastis hingga menyentuh level 40 dolar per barel begitu konflik dengan Iran usai. Pernyataan mengejutkan ini disampaikan dalam sebuah wawancara eksklusif yang disiarkan pada hari Jumat.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →"Kita akan melewati konflik Iran ini, dan saya memperkirakan harga minyak akan turun karena pasar akan mengalami oversupply yang masif setelah situasi mereda," ujar Bessent dalam wawancaranya sebagaimana dikutip dari laporan Bloomberg.
Berdasarkan pengamatan tim redaksi, lonjakan harga energi akibat ketegangan militer antara AS dan Iran sebelumnya telah mendongkrak harga minyak Brent di atas 95 dolar per barel. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran global terhadap lonjakan inflasi serta mendongkrak imbal hasil obligasi acuan ke level tertinggi sejak tahun 2023.
Menurut analisis awak media, tingginya korelasi antara suku bunga dan harga minyak saat ini menjadi perhatian utama para pelaku pasar keuangan global. Bessent sendiri menegaskan bahwa koreksi harga minyak nantinya akan turut menyeret turun yield obligasi yang sempat mencetak angka tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.
Selain membahas pasar energi, Bessent juga menanggapi santai rencana dana kekayaan negara Norwegia yang dikabarkan ingin mengurangi kepemilikan surat utang AS atau US Treasuries. Ia menilai langkah tersebut merupakan strategi wajar investor untuk mengalihkan dana ke aset Amerika Serikat lainnya yang memberikan imbal hasil lebih menarik.