Upaya Departemen Keuangan Amerika Serikat untuk meredam kenaikan imbal hasil melalui program pembelian kembali atau buyback obligasi senilai 6 miliar dolar AS harus menemui jalan buntu. Alih-alih menurunkan beban pinjaman bagi masyarakat, langkah tersebut justru gagal memenuhi ekspektasi pasar dan membuat imbal hasil obligasi terus merangkak naik ke level tertinggi dalam tiga tahun terakhir.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Berdasarkan analisis dari awak media, para calon pembeli rumah dan masyarakat yang ingin melakukan refinansial KPR harus dihadapkan pada kenyataan pahit ketika suku bunga KPR merayap naik dan bahkan menembus angka 7 persen. Menanggapi kegagalan ini, Menteri Keuangan Scott Bessent menepis anggapan bahwa program tersebut sepenuhnya gagal, beralasan bahwa jumlah penawaran dari investor hanya mencapai separuh dari biasanya.
Mengutip laporan dari pengamat pasar, lonjakan suku bunga ini tidak lepas dari bayang-bayang inflasi yang persisten serta kenaikan harga energi akibat konflik global yang memanas. "Suku bunga obligasi tidak pernah lebih berkorelasi dengan harga energi seperti sekarang, dan kami sedang menghadapi guncangan pasokan yang nyata," ungkap Scott Bessent dalam wawancara eksklusifnya.
Dari pengamatan tim redaksi, para pakar ekonomi menilai bahwa persoalan defisit anggaran federal yang mencapai angka fantastis turut memperburuk situasi pasar obligasi jangka panjang. Tanpa adanya rencana fiskal yang benar-benar solid untuk menekan defisit, upaya intervensi pemerintah dikhawatirkan hanya menjadi solusi sementara di tengah tekanan ekonomi yang kian kompleks.
Di sisi lain, Federal Reserve diproyeksikan akan kembali mengambil langkah pengetatan suku bunga jangka pendek dalam waktu dekat, yang secara langsung akan menjaga imbal hasil obligasi 10 tahun tetap berada di level tinggi. Kondisi ini mengisyaratkan bahwa masyarakat yang berniat memiliki hunian harus bersiap menghadapi biaya pinjaman yang jauh lebih mahal dalam beberapa waktu ke depan.