Ironis memang, tinggal di wilayah tropis yang disinari matahari sepanjang tahun ternyata tidak menjamin seseorang bebas dari masalah kekurangan nutrisi. Berdasarkan data kesehatan nasional, sekitar 40 persen penduduk di Singapura tercatat mengalami kekurangan Vitamin D, sementara sebagian kecil lainnya berada dalam kategori parah.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Berdasarkan analisis awak media, fenomena ini memunculkan pertanyaan besar mengingat sinar ultraviolet B atau UVB tersedia berlimpah di luar ruangan. Namun, gaya hidup urban modern membuat masyarakat jarang terpapar sinar matahari secara langsung dalam durasi yang cukup.
Menurut penjelasan medis, mayoritas pekerja kantoran di perkotaan menghabiskan waktu di dalam ruangan yang dilindungi fasilitas serba tertutup. "Anda bisa berpindah dari apartemen, area parkir, kantor, hingga pusat perbelanjaan tanpa pernah benar-benar terkena sinar matahari," demikian pernyataan Dr Stephen Chu dari Aquila Medical Center.
Selain faktor lingkungan perkotaan, karakteristik kulit dan kebiasaan berpakaian juga memegang peranan penting dalam sintesis nutrisi tersebut. Kulit dengan kadar melanin lebih tinggi terbukti menyerap radiasi UVB lebih lambat, sehingga kelompok etnis tertentu rentan mengalami defisiensi.
Mengutip laporan dari kalangan ahli endokrinologi, kadar Vitamin D yang rendah tidak boleh diabaikan begitu saja karena berkaitan erat dengan kesehatan tulang dan risiko osteoporosis. Oleh karena itu, para dokter menyarankan agar masyarakat tetap memperhatikan keseimbangan nutrisi serta tidak panik saat mendapati hasil tes darah yang kurang optimal.