Warga di Kelurahan Pondok Labu, Kecamatan Cilandak, Jakarta Selatan menciptakan inovasi alat pendeteksi banjir bernama Smart Flood Warning System. Teknologi ini digunakan sebagai sistem peringatan dini demi mempermudah mitigasi bencana banjir di lingkungan permukiman setempat.
Gagasan Pemuda Karang Taruna
Baca Juga
-
BMKG Prakirakan Lima Wilayah Jakarta Diguyur Hujan Hari Ini
BMKG memprakirakan lima wilayah DKI Jakarta diguyur hujan pada Senin, 20 Juli 2026, sementara...
-
Kebayoran Lama Bagikan 349 Tong Biopori Jumbo demi Kurangi Sampah
Pemerintah Kecamatan Kebayoran Lama membagikan 349 tong biopori jumbo ke enam kelurahan untuk...
-
Reza dan Nadya Resmi Dinobatkan Jadi Abnon Kepulauan Seribu 2026
Reza Sya'bana Santoso Putra dan Nadya Ramadhita resmi terpilih sebagai Abang None Kepulauan...
-
Tiga Kapal Nelayan Terbakar di Muara Angke, Kerugian Capai Rp 1,5 Miliar
Tiga kapal nelayan di Muara Angke, Penjaringan, hangus terbakar pada Minggu (19/7). Tidak ada...
Lurah Pondok Labu, Nachnoer Vernier Atom memaparkan bahwa inovasi tersebut diinisiasi oleh seorang anggota Karang Taruna RT 02/10 bernama Muhammad Azzuhri Ramdhani. Ide ini muncul setelah Azzuhri merampungkan pendidikan dan pelatihan kebencanaan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta.
"Setelah mengikuti diklat BPBD, beliau memiliki gagasan membuat alat pendeteksi banjir karena juga tinggal di lokasi yang rawan banjir," ungkap Vernier pada Senin (20/7/2026).
Wilayah Rentan Luapan Sungai
Kawasan Kelurahan Pondok Labu tergolong rawan tergenang lantaran lokasinya diapit oleh aliran Kali Grogol dan Kali Krukut. Luapan kedua sungai ini tercatat pernah memicu banjir besar setinggi hampir dua meter pada tahun 2020 silam.
Potensi dampak luapan ini menyasar permukiman warga di RT 01/10 yang dihuni 158 kepala keluarga (540 jiwa) serta kawasan RT 02/10 yang mencakup 120 kepala keluarga (386 jiwa). Untuk tahap awal, dua unit sistem peringatan dini pintar ini telah terpasang di wilayah RT 01 dan RT 02/10.
Rakit Komponen Bekas Lewat Swadaya
Penggagas alat, Muhammad Azzuhri Ramdhani (23), menerangkan bahwa perakitan piranti elektronik ini mengoptimalkan komponen-komponen bekas hasil swadaya masyarakat. Pemasangan pertama pada akhir 2024 didanai oleh uang kas RT setempat bersama Karang Taruna, sementara unit kedua didukung program CSR korporasi.
Sebelum alat ini hadir, warga mengandalkan pengumuman manual lewat pengeras suara masjid, kentongan, atau ketukan tiang listrik yang dinilai kurang efektif di malam hari. Azzuhri menyebut hujan deras selama 30 menit saja sudah memicu genangan setinggi 50 sentimeter di wilayahnya.
"Alat ini dibuat agar masyarakat memperoleh informasi lebih awal. Banjir datang tanpa permisi, tetapi masyarakat berhak mendapatkan peringatan dini," jelas Azzuhri.