Pasar energi global kembali diguncang ketidakpastian setelah harga minyak dunia mencetak lonjakan signifikan pada perdagangan Kamis. Kontrak berjangka minyak mentah Brent melonjak 4,37 persen atau 4,28 dolar ke level 102,31 dolar per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat turut terkerek naik 2,71 persen ke posisi 92,87 dolar per barel.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Berdasarkan analisis dan pengamatan awak media, lonjakan tajam ini dipicu oleh sentimen ganda di pasar global. Di satu sisi, laporan mengenai langkah Washington yang mengerahkan tambahan pasukan dan kapal induk ke kawasan Timur Tengah memicu kekhawatiran eskalasi konflik yang lebih luas. Di sisi lain, keputusan mendadak Beijing untuk menghentikan ekspor produk bahan bakar minyak kian memperketat pasokan energi dunia.
Menurut laporan yang dihimpun, kilang-kilang minyak di China kompak menangguhkan pengiriman produk bahan bakar ke luar negeri hingga pemberitahuan lebih lanjut. Langkah drastis ini diambil di tengah kekhawatiran menipisnya ketersediaan produk di pasar domestik negeri tirai bambu tersebut.
Kendati pasokan minyak mentah secara umum masih mengalir ke pasar, kelangkaan pada produk sulingan seperti diesel justru semakin parah. Situasi ini diperburuk oleh kerusakan infrastruktur kilang di kawasan Teluk serta sanksi ekspor yang diterapkan oleh Rusia sebagai salah satu eksportir utama bahan bakar dunia.
Menanggapi gejolak harga yang kian menekan konsumen global, berbagai pihak berupaya mencari jalan keluar. Gugus tugas energi Uni Eropa dijadwalkan menggelar rapat darurat untuk membahas potensi pelepasan cadangan darurat diesel. Sementara itu, pemulihan ekspor dari kawasan Teluk, termasuk Arab Saudi yang mulai kembali melayani pengapalan, diharapkan dapat sedikit meredam tekanan di pasar komoditas global.