Dinamika dunia pendidikan di Singapura kembali menjadi sorotan setelah sebuah riset komprehensif dirilis oleh Institute of Policy Studies (IPS). Berdasarkan laporan yang dipublikasikan pada akhir September 2026 ini, terjadi pergeseran menarik dalam pola pikir para orang tua terhadap tumbuh kembang anak mereka di sekolah.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Dalam laporan tersebut, terungkap bahwa semakin banyak keluarga di Negeri Singa yang mulai merangkul pendekatan pendidikan holistik. Para orang tua kini lebih menghargai lingkungan belajar yang bahagia serta mendukung perkembangan sosial-emosional anak di ruang kelas, alih-alih sekadar mengejar angka atau nilai semata.
Kendati demikian, sinyal-sinyal akademik rupanya belum sepenuhnya ditinggalkan oleh masyarakat. Berdasarkan analisis tim redaksi dari data survei tersebut, faktor penentu tradisional seperti nilai Ujian Nasional atau PSLE, reputasi sekolah, hingga jaringan alumni masih memegang peranan krusial dalam benak sebagian besar wali murid.
"Kami melihat adanya penurunan tingkat kecemasan terkait pekerjaan rumah, namun kekhawatiran tentang potensi maksimal anak justru mengalami peningkatan," ujar Dr Mathew Mathews selaku salah satu peneliti utama dari IPS Social Lab saat memaparkan hasil riset kepada para awak media.
Menariknya lagi, survei ini juga mencatat penurunan persentase orang tua yang merasa sistem pendidikan memberikan tekanan berlebihan pada anak, yakni dari angka 76,3 persen pada dekade lalu menjadi 68.7 persen di tahun 2026. Angka ini mengindikasikan adanya efektivitas dari berbagai reformasi kebijakan yang digulirkan oleh Kementerian Pendidikan setempat dalam menekan beban siswa.
Di sisi lain, pengeluaran untuk bimbingan belajar tambahan atau les privat terpantau masih menjadi salah satu pos anggaran yang diandalkan oleh keluarga. Sebagian besar orang tua berpandangan bahwa investasi ekstra di luar jam sekolah tetap diperlukan agar anak-anak mereka mampu bersaing secara kompetitif di tengah sistem pendidikan yang ketat.