Kepanikan di pasar obligasi belakangan ini sempat memicu kekhawatiran para investor global menyusul kenaikan imbal hasil atau yield obligasi pemerintah AS ke level tertinggi dalam hampir seperempat abad terakhir. Namun, kekhawatiran tersebut dinilai tidak beralasan oleh sejumlah pelaku industri keuangan utama. CEO Edward Jones Penny Pennington secara tegas menyatakan bahwa prospek bullish untuk investasi saham tetap kuat di tengah berbagai gejolak pasar yang sedang terjadi.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Menurut Pennington, pergerakan pasar saham saat ini jauh lebih dipengaruhi oleh pertumbuhan ekonomi yang solid serta antusiasme yang tinggi terhadap sektor kecerdasan buatan atau artificial intelligence. Meskipun yield obligasi acuan 10 tahun sempat merangkak naik melewati ambang batas 5 persen, pasar menunjukkan ketahanan yang luar biasa berkat ekspansi bisnis yang solid serta proyeksi pertumbuhan ekonomi kuartal ketiga yang tetap impresif. "Kita masih berada dalam posisi risk on dan pasar seolah terus mendaki Wall of Worry," ungkap Pennington dalam keterangannya.
Dari analisis tim redaksi, ketahanan pasar saham AS di tengah lonjakan biaya pinjaman mencerminkan optimisme mendalam terhadap fundamental ekonomi domestik yang masih tangguh. Berdasarkan laporan aktivitas bisnis terbaru, pertumbuhan sektor swasta tercatat melaju pada laju tercepatnya dalam lima tahun terakhir. Para analis di Wall Street juga melihat bahwa performa laba perusahaan yang kuat menjadi fondasi kokoh yang mampu meredam tekanan dari pengetatan kebijakan moneter.
Kendati demikian, para pengamat pasar tetap mencermiting potensi risiko yang mungkin muncul dari sektor teknologi dan dinamika regulasi ke depan. Pennington menambahkan bahwa faktor penentu atau wild card bagi pergerakan saham ke depan lebih berpotensi datang dari disrupsi di sektor AI ketimbang kenaikan suku bunga itu sendiri. Dengan optimisme yang tetap terjaga, Pennington menegaskan kembali keyakinannya terhadap ketangguhan ekonomi Amerika Serikat dalam jangka panjang.