Warga DKI Jakarta kembali diuji kesabarannya dengan lonjakan harga kebutuhan dapur yang kian tak terkendali. Komoditas cabai rawit merah kini menjadi sorotan utama setelah meroket tajam di berbagai pasar tradisional maupun grosir di ibu kota.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Berdasarkan pemantauan tim redaksi, kenaikan harga ini langsung dirasakan oleh masyarakat luas, khususnya ibu rumah tangga dan para pelaku usaha kuliner yang menggantungkan nasib pada pasokan bumbu pedas tersebut setiap harinya.
Berdasarkan laporan perkembangan harga pangan dari Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta, lonjakan harga cabai rawit merah tercatat sangat signifikan baik dalam perbandingan mingguan maupun bulanan.
Di tingkat grosir, harga cabai rawit merah meroket hingga 26,22 persen atau bertambah sekitar Rp10.714 per kilogram dalam waktu sepekan saja, membuat komoditas ini berada di kisaran level Rp51.571 per kilogram.
Tidak berhenti di situ, jika ditarik dalam perbandingan bulanan, lonjakan harga di tingkat grosir bahkan menembus angka 30,56 persen dari periode sebelumnya yang berada di kisaran Rp41.686 per kilogram.
Dampak kenaikan dari jalur distribusi grosir ini tentu saja menjalar hingga ke tingkat eceran, membuat para pembeli di pasar tradisional harus merogoh kocek lebih dalam demi mendapatkan bahan pangan esensial tersebut.
Di tingkat eceran, harga cabai rawit merah mengalami peningkatan sebesar 8,13 persen atau naik sekitar Rp4.919 per kilogram, sehingga harga jualnya menyentuh angka Rp65.426 per kilogram.
Secara bulanan, harga eceran cabai rawit merah turut merangkak naik sebesar 3,03 persen dari harga rata-rata sebelumnya di kisaran Rp60.153 per kilogram.
Dari analisis awak media, selisih harga yang cukup kentara antara tingkat grosir dan eceran menunjukkan adanya beban rantai pasok serta biaya logistik dan transportasi yang turut memengaruhi harga akhir di tangan konsumen.
Menanggapi situasi yang meresahkan ini, Kepala Dinas KPKP DKI Jakarta, Hasudungan Sidabalok, "Lonjakan harga bukan hanya terjadi di Jakarta, melainkan juga melanda sejumlah daerah lain akibat faktor cuaca serta penurunan pasokan."
Lebih lanjut dijelaskan bahwa salah satu pemicu utama krisis pasokan ini adalah penyusutan luas lahan tanam cabai rawit merah yang terjadi secara signifikan pada periode Februari hingga Juli 2026.
Masyarakat diimbau untuk tetap bijak dalam mengelola anggaran belanja harian di tengah fluktuasi harga pangan yang tidak menentu, sementara pemerintah daerah terus berupaya mencari solusi terbaik untuk menstabilkan pasokan.