Menjaga keharmonisan dan kerukunan di tengah masyarakat kosmopolitan seperti Jakarta tentu memerlukan kolaborasi erat dari berbagai elemen, termasuk jajaran pemerintah dan para tokoh agama. Dinamika sosial yang kompleks menuntut adanya jembatan komunikasi yang kokoh antara pengambil kebijakan dan masyarakat.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Berdasarkan pengamatan tim redaksi, isu mengenai pentingnya kolaborasi ini mengemuka saat Wali Kota Administrasi Jakarta Selatan, Syafrin Liputo, menghadiri acara Halaqah Keummatan bersama organisasi kemasyarakatan serta lembaga keagamaan se-Jakarta Selatan yang bertempat di Kebayoran Lama Utara.
Dalam arahannya, Syafrin menekankan bahwa hubungan antara ulama dan umaro harus senantiasa berjalan beriringan dan saling melengkapi. Pemerintah membutuhkan pandangan serta bimbingan moral dari para tokoh agama, sementara ulama berperan aktif menyerap dan menyuarakan aspirasi warga.
"Ketika Ulama dan Umaro beriringan, saling mendukung, dan saling mengisi, maka fondasi kedamaian sebuah kota akan berdiri dengan kokoh. Sebaliknya, jika komunikasi terputus, maka umat atau masyarakatlah yang akan menjadi korbannya," tegas Syafrin di hadapan para peserta.
Mengutip laporan dari kegiatan tersebut, Syafrin juga mengingatkan pentingnya memperkuat tiga pilar ukhuwah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, yaitu ukhuwah Islamiyah, ukhuwah Wathaniyah, serta ukhuwah Syariah untuk merawat persatuan.
Awak media menilai langkah dialogis yang diinisiasi melalui forum keummatan ini menjadi strategi efektif untuk meredam potensi gesekan sosial sekaligus memperkuat rasa kebangsaan di tengah keragaman latar belakang warga Jakarta Selatan.