Inovasi kreatif kembali dihadirkan oleh pengurus lingkungan di wilayah ibu kota demi mendongkrak wawasan warga setempat. Ketua RT 11/RW 07 Gandaria Utara, Jakarta Selatan, Imam Basori, sukses menggagas program les bahasa Inggris gratis yang terbuka bagi seluruh lapisan masyarakat tanpa memandang usia.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Berdasarkan pengamatan dan analisis tim redaksi, program ini berhasil mematahkan stigma bahwa belajar bahasa asing adalah hal yang kaku dan menakutkan bagi kalangan orang tua maupun lansia. Suasana kelas dirancang sedemikian rupa agar jauh dari kesan menegangkan, sehingga anak-anak, remaja, bapak-bapak, ibu-ibu, hingga lansia tampak berbondong-bondong mengikutinya.
Guna menjamin kualitas pengajaran, pihak pengurus mendatangkan tenaga pendidik profesional langsung dari Kampung Inggris, Pare, Jawa Timur. Interaksi aktif langsung terjalin di dalam kelas melalui metode pembelajaran interaktif yang merangsang daya tangkap para peserta secara efektif.
Dalam praktiknya, metode yang diterapkan tidak sekadar mencatat teori di dalam buku. Pengajar kerap menyebutkan kosakata dalam bahasa Indonesia, lalu para peserta diminta untuk langsung menerjemahkannya ke dalam bahasa Inggris secara spontan.
Tak hanya itu, sesi kelas juga diselingi dengan simulasi interaktif seperti praktik jual beli di toko menggunakan uang mainan. Melalui simulasi tersebut, setiap peserta dituntut untuk berani berbicara dan mempraktikkan langsung percakapan bahasa Inggris baik sebagai pembeli maupun penjual.
Tingginya minat masyarakat terlihat jelas dari jumlah partisipan yang bergabung sejak program ini pertama kali diluncurkan. Imam Basori mengungkapkan bahwa selama dua pekan berjalan, tercatat sudah ada 50 warga yang antusias mendaftarkan diri.
"Alhamdulillah dari masyarakat kita sangat luar biasa sekali ya. Mereka gairahnya, semangatnya mulai dari anak-anak, mulai dari remaja sampai orang tua, bahkan lansia pun juga ikut serta, ikut dalam kelas ini," ujar Imam saat ditemui di lokasi.
Lebih lanjut, Imam menjelaskan alasan utama pemilihan materi bahasa Inggris karena bahasa asing tersebut kerap dianggap sebagai hal yang rumit oleh sebagian orang awam. "Jadi bahasa Inggris itu mungkin ya selama ini bagi yang untuk anak-anak maupun yang orang tua ya, itu sesuatu yang masih dianggap sebagai sesuatu yang angker ya, rumit yang susah untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari," imbuhnya.
Melalui pendekatan edukatif yang menyenangkan, warga diharapkan mampu menyerap materi tanpa merasa terbebani. "Tapi dengan kita yang kita lakukan seperti ini mereka fun ya, happy, habis itu dengan cara seperti ini mereka enggak tertekan untuk belajar bahasa Inggris. Nah, ini yang kita harapkan bagian dari menjembatani komunikasi dengan dunia luar, menambah wawasan juga. Nah, ini bagian kita stimulus," tutur Imam.
Pengamat sosial perkotaan menilai langkah progresif tingkat RT seperti ini patut diapresiasi dan diadopsi oleh wilayah lain. Inisiatif akar rumput ini dinilai sangat efektif dalam membangun sumber daya manusia yang adaptif menghadapi tantangan global langsung dari tingkat komunitas terkecil.