Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyampaikan pembaruan penting mengenai arah sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. Berdasarkan pengamatan terkini, wilayah ibu kota dipastikan tidak lagi berada dalam jalur atau area yang terdampak langsung oleh material vulkanik tersebut.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Perubahan pola dan arah angin di kawasan Selat Sunda menjadi faktor utama yang mendorong material vulkanik bergerak menjauhi kawasan padat penduduk di Jakarta. Berdasarkan analisis dari tim redaksi, situasi ini sekaligus memberikan angin segar bagi warga yang sempat cemas terhadap potensi penurunan kualitas udara akibat erupsi.
Berdasarkan pemantauan citra satelit Himawari-9, pergerakan klaster abu vulkanik terpantau secara berkala. "Abu vulkanik diperkirakan semakin menyebar ke arah barat daya," ujar perwakilan BMKG dalam keterangan resminya.
Dari pantauan meteorologi, material vulkanik yang terbawa oleh embusan angin tersebar pada beberapa lapisan atmosfer dengan karakteristik arah aliran yang berbeda-beda. Pada lapisan bawah hingga ketinggian sekitar 4,57 kilometer, sebaran abu terdeteksi mengarah ke barat daya serta barat laut.
Jalur sebaran pada lapisan rendah tersebut meliputi kawasan Banten bagian barat, Lampung, Bengkulu, hingga perairan Samudra Hindia di sebelah barat wilayah terkait. Kondisi ini menuntut masyarakat di daerah pesisir tersebut untuk tetap meningkatkan kewaspadaan ekstra.
Sementara itu, material vulkanik pada lapisan atmosfer yang jauh lebih tinggi terpantau mencapai 15,24 kilometer dari permukaan tanah. Pada ketinggian ekstrem ini, arus angin membawa abu vulkanik semakin jauh meluas ke tengah Samudra Hindia dan meninggalkan daratan Indonesia.
Dari sudut pandang pengamatan awak media, pergerakan angin ke arah laut ini menjadi penyelamat utama bagi wilayah perkotaan dari paparan debu yang lebih masif. Meskipun demikian, sektor penerbangan komersial tetap harus siaga karena ketinggian abu beririsan langsung dengan jalur jelajah pesawat.