Dunia teknologi diguncang oleh pernyataan mengejutkan dari CEO Anthropic, Dario Amodei, yang secara terbuka mendesak industri kecerdasan buatan untuk mengerem laju pengembangan model tercanggih. Seruan ini langsung didukung oleh CEO OpenAI, Sam Altman, melalui sebuah unggahan di platform media sosial X.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Langkah kedua pemimpin industri tersebut merespons peringatan keras yang dilontarkan oleh mantan peneliti Anthropic, Jacob Coxon, yang memilih mundur karena menilai perusahaan pengembang tidak bertindak secara bertanggung jawab. Dalam pernyataannya, Coxon menyebut bahwa perlombaan menciptakan superintelligence yang mampu meningkatkan diri sendiri menyimpan potensi ancaman mematikan bagi peradaban manusia sebelum dekade ini berakhir.
Kekhawatiran tersebut diperkuat oleh pandangan Alignment Science Lead Anthropic, Evan Hubinger, yang secara terbuka menyatakan bahwa ada probabilitas lebih dari sepuluh persen bagi teknologi kecerdasan buatan untuk memusnahkan umat manusia. Berdasarkan analisis awak media, rentetan pengunduran diri dan pengakuan internal ini memicu kepanikan luar biasa di kalangan regulator Washington DC maupun para pelaku industri di Silicon Valley.
Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menanggapi kekhawatiran tersebut dengan menekankan pentingnya mempertahankan keunggulan teknologi nasional dalam persaingan global melawan China. Meskipun membuka ruang untuk regulasi pengaman, pemerintah tetap mewaspadai potensi hambatan yang dapat memperlambat inovasi strategis.
Sebagai langkah mitigasi, Dario Amodei mengusulkan agar perusahaan-perusahaan teknologi terkemuka melibatkan evaluator independen pihak ketiga guna mengaudit standar keselamatan dan proses pelatihan model kecerdasan buatan. Sebagaimana dilaporkan Yahoo Finance, perdebatan etika ini mencuat di tengah rencana penawaran umum perdana saham Anthropic yang dijadwalkan berlangsung pada musim gugur mendatang.