Gelora ambisi Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk menguasai Greenland tidak hanya mengguncang panggung politik internasional, tetapi juga menebar ketakutan di kalangan warga asing. Sebagaimana dilaporkan, peningkatan kehadiran militer dan ketegangan geopolitik yang memuncak membuat ribuan pekerja migran asal Asia Tenggara merasa cemas akan masa depan mereka di pulau terbesar di dunia tersebut.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Berdasarkan analisis dari awak media, situasi ini menempatkan para pekerja migran dalam posisi yang dilematis di tengah perebutan pengaruh strategis dan sumber daya mineral. GP Dupitas, seorang perawat asal Filipina yang telah tinggal lebih dari satu dekade di Nuuk, mengungkapkan bahwa suasana musim dingin sempat terasa mencekam karena ancaman konflik terbuka.
"Semua orang melihat ke atas untuk memastikan apakah ada pesawat militer yang datang, rasanya seperti kami berada dalam invasi," ujar Dupitas menggambarkan ketakutan yang dirasakannya saat itu.
Meskipun dinamika politik global terus bergejolak dan memicu aksi protes besar-besaran dari penduduk lokal yang menolak bergabung dengan Amerika Serikat, perekonomian Greenland tetap sangat bergantung pada tenaga kerja asing. Saat ini, komunitas asal Filipina dan Thailand mencatatkan diri sebagai populasi diaspora terbesar yang mengisi berbagai sektor krusial mulai dari perhotelan hingga fasilitas kesehatan.
Di sisi lain, sebagian keluarga migran memilih untuk pulang demi keamanan anak-anak mereka, sementara sebagian lainnya memilih bertahan dengan tetap memantau situasi darurat. Para pemimpin bisnis lokal berharap stabilitas segera pulih agar investasi dan jalur migrasi tenaga kerja tidak terganggu oleh ambisi politik luar negeri.